RSS

Apa Itu Intelijen?

08 Okt

by Khaerul Muslim  (Kompilasi dari berbagai sumber)

Ada banyak definisi yang tersedia. Dalam penggunaan umum, intelijen berkenaan dengan tiga hal (1) pengetahuan khusus, (2) jenis organisasi yang menghasilkan pengetahuan tersebut dan (3) kegiatan yang dilakukan oleh organisasi tersebut11. Dalam artian yang lebih sempit, intelijen adalah bagian dari suatu kategori informasi yang lebih luas yang, dalam hirarki teori manajemen informasi modern, merupakan satu langkah dalam rantai penciptaan nilai, diawali dengan data yang kemudian menjadi informasi, dan selanjutnya pengetahuan serta akhirnya berpuncak pada kebijaksanaan. Karena pengetahuan ada pada pengguna dan bukan pada sekumpulan informasi, hanya manusia yang dapat mengambil peranan kunci dalam pembuatan pengetahuan. Informasi, yang selalu tersedia lebih banyak sehingga lebih murah, telah menjadi satu-satunya faktor produksi yang nilainya meningkat melalui penggunaannya.

Selanjutnya, semakin banyak orang yang bekerja dengan data dan informasi yang sama semakin besar pula nilai pengetahuan yang mereka bisa dapatkan dari data dan informasi tersebut. Jadi, bila informasi adalah apapun yang dapat diketahui, terlepas dari cara untuk mendapatkannya, intelijen mengacu pada pengetahuan yang memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau dipahami dari para pembuat kebijakan dan pada keseluruhan proses dimana data dan informasi diidentifikasi, didapatkan dan dianalisa untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Sebagian besar keluaran (output) intelijen memiliki elemen pengolahan (processing) yang signifikan, dan hal inilah yang tercermin dalam pembedaan di kalangan militer antara .data yang belum diolah dari berbagai uraian., yang didefiniskan sebagai informasi, dan .produk yang dihasilkan dari pengolahan informasi tersebut., yang didefinisikan sebagai intelijen.13 Jadi semua intelijen adalah informasi, namun tidak semua informasi adalah intelijen. Dibanding dengan berbagai informasi dari sumber-sumber diplomatik atau lainnya, intelijen bekerja lebih banyak dengan mendorong daripada menarik dan pengolahannya memberikan nilai tambah kepada bukti yang dikumpulkan. Konsekuensi dari hal ini adalah kecenderungan intelijen untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dimana di dalamnya juga terdapat elemen penyembunyian atau penipuan. Tingkat pengolahannya beragam.

Banyak dokumen yang diperoleh dan pesan yang disadap secara rahasia masih perlu ditafsirkan secara hati-hati. Beberapa di antaranya cukup transparan, namun inipun membutuhkan penafsiran lebih lanjut. Apalagi mengingat informasi intelijen adalah keluaran yang dirangkai dari berbagai sumber (tailored output) untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang spesifik, intelijen harus membujuk konsumennya melalui ketrampilan penyampaian secara analitik (analytic tradecraft) berupa rangkaian bukti, asumsi, dan kesimpulan. Lebih jauh lagi analisis kesempatan (opportunity analysis) digunakan untuk mengidentifikasikan kesempatan atau kerentanan yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengusulkan suatu kebijakan, merencanakan suatu intervensi, atau melakukan operasi gabungan. Jadi yang membedakan intelijen dari informasi yang sifatnya hanya melaporkan dan memberitakan adalah tekanannya pada analisis, presentasi dan persuasi. Selain itu, penekanan dalam pengolahan ini diperkuat pula oleh peranannya untuk membuat perkiraan ke depan karena nilai terbesar intelijen adalah sebagai pemandu dalam memahami masa depan15.

Dengan demikian intelijen itu ibarat arkeologi, yakni bagaimana menafsirkan bukti dan menemukannya. Kecerdasan dalam arti luas membedakan intelijen dari informasi dan data- walaupun intelijen yang terbaik sekalipun tidak menjamin adanya kebijaksanaan. Kendati demikian gagasan intelijen sebagai pertimbangan dan ramalan yang obyektif harusl mendapat pengakuan dan posisi penting, bukan hanya dalam konsep tatanan liberal internasional tetapi lebih dari itu dalam cakupan multilateral kerjasama internasional.

2. Fungsi Badan Intelijen

2.1. Tujuan Intelijen Tujuan intelijen adalah untuk memberi informasi kepada pemerintah: menyatakan kebenaran kepada kekuasaan. Intelijen melayani dan berada di bawah pembuatan kebijakan. Intelijen ada untuk (1)menghindari kejutan-kejutan strategis (2) menyediakan  keahlian jangka panjang (3) mendukung proses kebijakan dan (4) menjaga kerahasiaan informasi, kebutuhan, sumber, dan metode17. Intelijen juga merupakan tenaga ahli pemerintah dalam hal metode pengumpulan dan eksploitasi data dan informasi, tetapi pada saat yang sama dalam tingkatan tertentu berfungsi sebagai ahli tentang masalahmasalah tertentu, dan peranannya mencari keseimbangan yang rumit di antara keduanya.

Secara formal, cakupan intelijen tampaknya tidak terbatas karena hanya ada sedikit panduan tentang pokok masalah yang tidak boleh ditanganinya. Namun, ada batasan-batasan tentang hal-hal dimana ia memiliki kewenangan. Ini adalah wilayah dimana intelijen memiliki keunggulan dibanding sumber pengetahuan lainnya, dan ini cenderung terdiri dari gagasan-gagasan yang sumir namun dapat dikenali perihal .keamanan nasional..

Dalam konteks keamanan nasional inilah wilayah hirauan utama intelijen mencakup resiko aktual maupun potensial tentang adanya perubahan dengan kekerasan, ancaman tentang bahaya tersebut, ketidakstabilan, dan situasi-situasi di mana semua ini terjadi, termasuk semua cara dan metode konflik, penggunaan atau tujuan di balik penggunaannya, kemampuan yang tercakup di dalamnya, cakupan pengembangannya dan ancaman yang ditimbulkannya. .

Jadi, jika digunakan dengan benar sebagai garis pertama pertahanan, badan intelijen memberi kontribusi pada kemampuan demokrasi dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan bangsa dan rakyatnya, untuk mencapai tata pemerintahan yang baik, dan agar fungsi negara dapat dijalankan dengan efektif serta efisien. Di tangan pemimpin demokrasi yang bertanggungjawab, intelijen adalah salah satu pendukung utama agar negara dapat menjalankan kewajibannya yang mutlak terhadap rakyat untuk menjamin bahwa ancaman terhadap keamanan dapat diketahui secara dini untuk menghadapinya sehingga, cidera, kematian dan kerusakan dapat dicegah.

Dunia pada abad ke 21 kemungkinan besar akan penuh dengan bahaya-bahaya baru, ditambah lagi dengan banyak hal yang tidak pasti dan tak terduga di banding periode apapun dalam sejarah. Kepemimpinan menjadi lebih rumit dengan banyaknya aktor, sumber krisis, dan cara konflik, semakin meningkatnya interdependensi ekonomi, perkembangan teknologi yang pesat serta keterkaitan yang semakin meningkat dari informasi dan komunikasi, serta dinamika dan kerentanan-kerentanan baru yang ditimbulkannya. Pemerintah harus memahami hal ini agar dapat menanggapinya.

Seringkali ketersediaan pilihan tergantung pada seberapa cepat masalah dapat diidentifikasi. Selanjutnya menentukan pilihan yang tepat tergantung pada pengetahuan tentang kemungkinan konsekuensi dari pilihan tersebut.Begitu suatu rangkaian tindakan dipilih, sangat penting untuk mengetahui kemungkinan dampak-dampak keputusan tersebut, sehingga penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan dapat dilakukan.

Bagaimanapun juga, membuat pilihan yang benar akan tergantung pada kualitas informasi yang tersedia. Jadi, pembuatan keputusan dan kebijakan yang berbasis informasi membutuhkan intelijen, penilaian dan peringatan yang memadai. Hanya bila pembuat keputusan dan kebijakan eksekutif puncak -beserta para penasihat dan penyusun rencananya- benar-benar memiliki informasi yang memadai tentang keadaan dunia, kemungkinan perkembangan yang terjadi dan ancaman yang nyata dan potensial, bahaya, resiko serta kesempatan yang tersedia, barulah mereka dapat diharapkan untuk membuat pertimbangan yang baik tentang keamanan internal dan eksternal, pertahanan nasional dan hubungan luar negeri.

Pengetahuan yang mendalam tentang situasi strategis, perkembangan yang mungkin dan berpeluang besar terjadi, resiko, bahaya, ancaman dan kesempatan, merupakan prasayarat untuk (1) mendefinisikan kepentingan nasional (2) mengembangkan kebijakan keamanan yang tangguh dan strategi nasional dan militer yang baik (3) menentukan misi angkatan bersenjata dan pasukan keamanan dan (4) menetapkan doktrin serta penerjemahannya dalam operasi. Lebih jauh lagi, pengetahuan, rencana darurat, dan peringatan tepat waktu adalah prasyarat untuk pengelolaan krisis nasional yang efektif dan efisien.

Badan intelijen menyediakan dasar untuk pengetahuan di atas. Mereka juga setiap saat harus dapat memberi peringatan tentang krisis yang mengancam dan mendeteksi kemungkinan kejutan, bahaya, ancaman maupun serangan sebelum terjadi. Untuk kekuatan militer yang kecil, fungsi peringatan ini menjadi semakin penting. Waktu yang cukup dibutuhkan untuk menyesuaikan kekuatan pertahanan, bilamana rekonstitusi penuh akan diperlukan lagi. Peringatan yang sangat dini menjadi suatu kebutuhan.

Perkembangan yang cepat dari lingkungan strategis, politis dan ekonomi sejak Perang Dingin berakhir telah mendorong usaha pencarian informasi tentang isu keamanan yang memang harus dilakukan oleh pemerintah. Dengan berkurangnya ancaman militer konvensional, bahaya dan resiko baru sehubungan dengan proliferasi, globalisasi dan destabilisasi telah meningkatkan tantangan-tantangan keamanan, membuat penilaian menjadi semakin rumit, perkembangan lebih tidak dapat diduga, dan krisis serta konflik lebih sulit untuk diperkirakan. Dengan meningkatnya resiko dan bahaya transnasional, keamanan nasional semakin tergantung pada stabilitas regional dan global serta solidaritas antar bangsa-bangsa yang berpikiran sama. Karena jarak geografis tidak lagi menjamin keamanan yang diperlukan, negara-negara harus mepengaruhi konflik dan krisis dan semakin memusatkan perhatian pada kebijakan keamanan dan luar negeri demi pencegahan konflik, pengelolaan krisis, tanggapan terhadap krisis serta pemeliharaan perdamaian sambil berkoalisi dengan mereka yang mampu dan mau.

2.2. Mengatasi Resiko, Bahaya dan Ancaman Baru

Tugas yang diberikan kepada badan intelijen lebih rumit, lebih tidak stabil dan lebih beragam dibanding pada masa Perang Dingin. Perubahan dramatis dialami badan intelijen dalam hal jumlah dan keragaman resiko, bahaya dan ancaman: selain dari ketidaksetaraan antar negara, dimana untuk sebagian dari mereka kedaulatan hanyalah sekedar mitos atau bahkan kemunafikan,19 ada negara-negara dengan pemerintahan buruk (rogue government) yang mendorong destabilisasi dalam lingkungan strategis mereka, memproduksi senjata pemusnah massal (weapons of mass distruction) melindungi teroris dan mensponsori pembunuhan penentang politik mereka di luar negeri; dan ada juga negara-negara gagal yang memicu konflik endemis dan migrasi massal. Sementara itu meningkat juga jumlah entitas non-negara yang memiliki kekuatan.

Memang ada banyak perusahaan multinasional dan organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam bidang amal patut dihargai, tetapi yang lain bersama dengan lembaga keuangan dan organisasi media monopolistik perlu dipertanyakan keberadaannya. Jenis yang berbeda lagi adalah organisaasi teroris, ekstrimis ideologi, suku maupun agama, mafia dan organisasi kejahatan besar, yang menciptakan ancaman yang serius dan berbahaya bagi semua masyarakat. Dengan memanfaatkan terbukanya perbatasan dan dengan penuh keahlian menggunakan kesenjangan antar hukum nasional serta prosedur dari berbagai negara, teroris, ekstrimis, penjahat perang, pedagang barang ilegal, pengedar senjata dan narkoba, penyelundup, dan ahli pencucian uang atau pembuangan limbah beracun secara rahasia dapat melakukan kegiatannya tanpa dihukum dan mereka hidup makmur. Selama struktur penegakan hukum tetap tidak efektif, tentunya kemenangan tetap ada di tangan para penjahat dan bukan hukum.

Apalagi, dengan adanya beberapa badan intelijen baru dan karena sekarang ini ada kecenderungan umum untuk menolak negara yang birokratis dan terjadinya pengalihan tugas kepada sektor swasta demi efisiensi dan pengurangan biaya, semua jenis organisasi keamanan dan intelijen swasta perlu dimonitor. Banyaknya aktor tersebut di atas, terlebih lagi ketika para pelanggar melakukan hacking dan perang informasi, telah menciptakan kerumitan dalam menduga gerakan dan target mereka selanjutnya. Semua cara pengumpulan harus dilakukan secara sistematis demi upaya untuk mendapatkan intelijen dan bukti-bukti, terutama perihal maksud, rencana dan kemampuan serta gerakan dari kelompok-kelompok yang sangat beragam ini. Peraturan penugasan badan intelijen selama ini adalah untuk mendapatkan apa yang tidak bisa diperoleh dengan cara lain yang lebih baik, aman, atau murah.

Metode pengumpulan sudah berubah secara dramatis selama abad ke 20: pencitraan melalui satelit dan penyadapan elektronik merupakan bukti yang paling jelas tentang hal ini dan telah menjadi alat yang paling sering dipilih. Namun kecenderungan lain yang mempengaruhi badan intelijen di luar AS, termasuk pemotongan anggaran karena keadaan fiskal, kemajuan teknologi yang membantu target intelijen dalam melindungi rahasia mereka, dan kebutuhan untuk melayani klien pemerintah yang lebih luas dengan semakin banyaknya jenis kebutuhan intelijen.

Karena intelijen adalah sumber daya yang terbatas, permintaan dan pasokan harus disesuaikan dengan cara menentukan seberapa besar pemborosan sumberdaya dan ketidakefisienan dapat terjadi. Sementara para profesional intelijen dan sistem modern dapat melakukan banyak hal, mereka tidak dapat melakukan semuanya. Permintaan selalu melampaui pasokan. Dalam dunia industri, dua pendekatan yang telah berkembang untuk mengatasi tantangan ini adalah perencanaan terpusat dari atas ke bawah dan pasar bebas yang dikendalikan konsumen dari bawah ke atas. Dalam menanggapi tuntutan Perang Dingin, badan-badan intelijen Barat memilih perencanaan terpusat untuk menyelesaikan masalah alokasi. Namun kemubaziran dan ketidakefisienan perencanaan terpusat tidak dapat ditanggung lagi biayanya. Intelijen yang efektif dari segi biaya membutuhkan daya tahan dan disiplin dalam dunia praktek.

Ini terlebih lagi karena tantangan dan kesempatan militer, sosial, ekonomi dan politik global, regional dan transisional yang beragam mengharuskan negara untuk mengalihkan fokusnya dari penghindaran resiko menjadi manajemen resiko. Aspek lainnya yang sangat penting terutama untuk negara yang lebih kecil meskipun sering diabaikan adalah kesinambungan. Terputusnya kompetensi tidak dapat dipulihkan kembali dengan sukses beberapa tahun setelah itu terjadi. Para politisi dan pejabat yang tidak terbiasa dengan produksi intelijen sering berpikir bahwa .pekerjaan intelijen dapat menghimpun kompetensi dan tetap mempertahankannya pada masa-masa sulit. Dalam banyak kasus ini tidaklah mungkin. Bahkan orang tidak mengerti fakta bahwa bila intelijen tidak siap menghadapi munculnya teknologi baru, maka sulit dan bahkan sering mustahil baginya untuk mengatasi ketertinggalannya kemudian.. Jika intelijen tidak mengikuti perkembangan yang terjadi di bidang teknis, maka ia akan ketinggalan sendirian dalam jangka waktu yang lama meskipun pemerintah mau mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar.20 Karena itu yang dibutuhkan untuk menjamin kesuksesan adalah kesinambungan dan peningkatan kerjasama internasional antara

badan-badan intelijen.

2.3. Kerjasama Internasional

Dalam sejarahnya, negara akan bekerjasama ketika mereka memiliki kepentingan dan hirauan intelijen yang sama.21 Umumnya hubungan semacam ini telah terbukti akan saling menguntungkan.22 Bahkan ketika kepentingannya tidak sepenuhnya sama, intelijen seringkali dapat menyediakan apa yang dibutuhkan pihak lain sebagai imbalan karena telah mendapatkan bantuan dari mitranya.. Kerjasama bilateral umumnya mencakup pembagian informasi dan analisis intelijen tentang topik-topik yang merupakan kepentingan bersama. Namun hubungan bilateral semacam itu hanya dapat dipertahankan dan diteruskan bila kedua negara dengan ketat menghormati perjanjuan yang menjadi dasar pertukaran informasi intelijen tersebut: bahwa asal dan rincian intelijen yang disediakan oleh badan mitra akan dilindungi sesuai dengan klasifikasinya dan tidak akan diserahkan kepada pihak ketiga.

Walaupun negara-negara dengan sumber daya intelijen yang lebih kecil tidak selalu dapat memberikan kemampuan yang setara dengan badan-badan yang lebih besar, mereka dapat melakukan pertukaran dengan cara lain. Dalam beberapa kasus, suatu negara dapat menyediakan akses geografis dan yang lainnya yang tidak akan tersedia tanpa bantuan tersebut. Dalam kasus-kasus lainnya, badan intelijen negara yang lebih kecil dapat menyediakan keterampilan, keahlian, dan kefasihan bahasa yang akan menyita waktu kalau badan intelijen yang lebih besar harus mengembangkannya sendiri.

Sementara beberapa negara memang mengeluarkan anggaran yang lebih besar untuk intelijen daripada yang lainnya, sangatlah tidak masuk akal untuk mengharapkan keseimbangan secara kuantitatif dalam hubungan semacam itu.

Selain akses dan kemampuan yang dapat disediakan suatu negara terkadang ada keuntungan dalam memiliki sekutu yang dekat dan bertahan lama yang dapat dipercaya dalam situasi yang sulit. Badan intelijen merupakan perekat yang nyata untuk hubungan keamanan semacam ini. Karena kebutuhan intelijen dari para pembuat kepentingan pemerintahan semakin berhubungan dengan hal-hal yang bersifat global maupun transnasional, hubungan intelijen dengan negara lain semakin meluas. Salah satu alasannya adalah karena tidak ada satu-pun badan intelijen yang dapat secara efektif menjangkau semua tempat dimana suatu kegiatan dapat terjadi di seluruh dunia. Selain itu, berbagai forum khusus terdapat di seluruh dunia untuk menangani subyek-subyek spesifik dengan mengumpulkan badan-badan intelijen dari berbagai negara dan yang sedikit banyak diketahui.

Resiko dan ancaman non militer baru, intervensi internasional yang meluas, dan operasi perdamaian multinasional menjadi sebab perluasan yang cepat dari kebutuhan akan kontribusi intelijen terhadap keamanan internasional. Pada saat yang sama, alasan-alasan tersebut membuka jalan untuk kerja sama yang lebih tinggi antara keamanan dan organisasi intelijen dari negara-negara yang berpartisipasi dan berkepentingan dengan kerjasama tersebut. Kerjasama yang seluas mungkin antar berbagai negara menjadi semakin penting karena adanya ancaman yang serius dari terorisme internasional dan bahaya bangkitanya terorisme internal.

Operasi perdamaian di Bosnia dan Kosovo telah memberikan gambaran tentang apa yang tampaknya telah menjadi pola baru dukungan intelijen untuk berbagai macam intervensi internasional. Semua yang bertanggung jawab atas operasi semacam itu, mulai dari Sekretaris Jenderal PBB ke bawah, telah menekankan pentingnya intelijen yang baik. PBB25, Uni Eropa, NATO, dan organisasi supranasional lainnya, serta tindakan-tindakan yang diambilnya masih bergantung pada masukan dari intelijen nasional. Intelijen nasional diharapkan dapat mengisi kesenjangan, menguji keabsahan sumber-sumber lain dan yang terpenting lagi memberikan penilaian.

Organisasiorganisasi internasional ini pada akhirnya akan membentuk suatu mesin penilaian intelijen supranasional, namun hal ini akan diwujudkan dalam proses yang memakan waktu dan harus dibangun berdasarkan pertukaran antar negara. Sejak beberapa tahun yang lalu, Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya telah berkomitmen untuk memberikan dukungan intelijen bagi organisasi-organisasi internasional.  Dalam batas tertentu, hal ini sudah menjadi landasan de facto dari masyarakat internasional.

Keamanan telah meluas secara pesat ke berbagai arah di dalam pemikiran organisasi

internasional, pemerintah, dan publik sejak akhir Perang Dingin sehingga mulai mencakup pertimbangan-pertimbangan ketertiban, keadilan dan kemanusiaan internasional.

Sebagaimana angkatan bersenjata, intelijen nasional semakin hirau dengan keamanan masyarakat lain, dan tidak lagi hanya terbatas pada masyarakat negaranya sendiri. Kekuatan-kekuatan koalisi yang dikirimkan dalam operasi-operasi perdamaian membutuhkan dukungan intelijen masa perang yang sepenuhnya.

Konsep penggunaan kekuatan lanjutan, serangan operasi, korban jumlah rendah dan kerusakan yang tak dapat dihindari dalam skala minimum sangatlah bergantung pada intelijen. Operasi Kekuatan Sekutu terhadap Republik Federal Yugoslavia tahun 1999 telah mendemonstrasikan paradoks dari operasi internasional yang sangat terbuka bagi publik tetapi pada saat yang sama sangat bergantung pada intelijen rahasia. Namun kebutuhan yang semakin besar akan kontribusi intelijen untuk kemanan internasional tidak terbatas pada pencegahan konlik, pengelolaan krisis, reaksi krisis, operasi perdamaian, operasi informasi dan perundingan perjanjian damai, namun juga mencakup berbagai kelompok lain di seluruh dunia dan juga isu-isu keamanan jangka panjang. Perlawanan terhadap terorisme, di mana intelijen merupakan sumberdaya yang paling penting, adalah salah satu contoh dalam hal ini.

Contoh lainnya adalah pembatasan senjata pemusnah masal dan penyebaran senjata lainnya. Kategori ketiga adalah dukungan terhadap berbagai perjanjian yang sudah disepakati tentang pengendalian senjata dan langkah-langkah pembangunan kepercayaan lainnya. Sanksi internasional merupakan kategori keempat dari kerja sama yang dipicu intelijen yang berskala luas.29 Kategori kelima adalah bantuan untuk penegakan hukum dalam perlawanan terhadap perdagangan narkoba, pencucian uang dan bentuk-bentuk kejahatan terorganisir internasional lainnya. Kategori keenam adala pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Intervensi untuk membantu bencana alam atau bencana lainnya dan pemberian bantuan kemanusiaan merupakan kategori ketujuh. Terlebih lagi, telah ada kebutuhan yang semakin meningkat atas kerja sama intelijen internasional guna melindungi infrastruktur nasional yang penting dan untuk mempertahankan diri terhadap serangan cyber.

2.4 Kategori Intelijen

Intelijen dapat dikelompokkan dengan berbagai cara. Pada umumnya ada dua kategori umum intelijen:

Intelijen keamanan, yang merupakan informasi yang relevan untuk keamanan dalam negeri: untuk perlindungan negara, wilayah dan masyarakat dari kegiatan yang dipengaruhi kekuatan asing, seperti subversi dan spionase, atau kekerasan yang bermotivasi politik. Hal ini dikumpulkan oleh badan intelijen dalam negeri untuk menjaga keamanan publik dan menjamin keamanan dalam negeri.

Intelijen luar negeri, yakni informasi yang relevan dengan keamanan eksternal dan untuk tujuan peringatan. Pemeliharaan keamanan eksternal membutuhkan pengetahuan tentang resiko, bahaya, ancaman serta kesempatan dan kemungkinan kejadian dan akibat dari kejadian tersebut. Jadi informasi dibutuhkan berkenaan dengan maksud, kemampuan dan kegiatan kekuatan, organisasi, dan kelompok non-negara asing serta agen-agennya yang memunculkan resiko, bahaya atau ancaman baik yang nyata maupun yang potensial terhadap negara tersebut serta kepentingannya di luar negeri. Informasi ini dikumpulkan oleh badan intelijen luar negeri untuk membantu memajukan dan menjaga kepentingan nasional termasuk kepentingan politik, ekonomi, militer, keilmuan, sosial dan keamanan.

Tujuan dan target pengumpulan intelijen luar negeri dan intelijen keamanan berbeda. Demikian juga dengan sifat serta cakupan resikonya. Sangatlah penting untuk memastikan langkah-langkah pengendalian dan pertanggungjawaban yang mencermikan perbedaan ini. Karena hakekat dari kekuatan intelijen dalam negeri yang bersifat intrusif dan karena adanya fakta bahwa pengumpulan dilakukan di dalam negeri terhadap warga negaranya sendiri, fungsinya harus dikendalikan secara ketat agar keamanan dan keselamatan internal seimbang dengan hak warga negara dan penduduk.

2.5 Fungsi Intelijen

Pada umumnya badan intelijen memiliki tiga fungsi dasar: pengumpulan, analisis dan, ciri yang melekat pada seluruh proses intelijen adalah kontra intelijen. Fungsi keempat yang agak jarang dilakukan oleh badan intelijen luar negeri adalah tindakan tertutup yang semakin sering diperdebatkan apakah hal tersebut merupakan fungsi intelijen yang pantas dalam negara demokrasi moderen.

2.5.1. Pengumpulan

Pengumpulan merupakan prinsip dasar dari intelijen, yakni upaya untuk mendapatkan informasi tentang orang, tempat, kejadian dan kegiatan yang dibutuhkan oleh pemerintah namun tidak dapat diperoleh melalui sumber-sumber yang terdapat secara luas dalam masyarakat, jalur diplomatik, maupun melalui kontak-kontak lainnya. Tanpa pengumpulan, intelijen hanyalah merupakan perkiraan33 belaka. Sistem pengelolaan pengumpulan digunakan untuk masing-masing dari ketiga metode utama pengumpulan:

intelijen manusia (HUMINT) yakni informasi yang dikumpulkan oleh manusia seperti mata-mata, agen, orang dalam, atau diambil dari pembelot, pengadu, informan, diplomat, pelaku bisnis, pelaku perjalanan dan media, dan lain-lain;

intelijen sinyal (SIGINT) terdiri dari data dan informasi yang dikumpulkan melalui penyadapan radio,

radar, atau pancaran elektronik lainnya termasuk laser, cahaya yang terlihat dan optik elektronik;34 dan intelijen gambar (IMINT) yang merupakan data dan informasi yang dikumpulkan melalui foto, atau teknologi pengambilan gambar secara elektronik, inframerah, ultra-violet dari darat, angkasa, ataupun luar angkasa.

Intelijen manusia dapat dipecah lagi menjadi pengumpulan terbuka dan rahasia. Keterampilan dan teknik intelijen manusia secara rahasia sangat berbeda dengan yang dibutuhkan untuk pengumpulan intelijen manusia secara terbuka dan karena itu pengaturan dan tanggungjawabnya juga berbeda.

Demikianpun dalam pengaturan pelaporan dan penyebaran intelijen yang dikumpulkan melalui setiap metode yang berbeda. Karena kartografi dan pemetaan sekarang sudah sangat bergantung pada pengambilan gambar atau pencitraan, maka ada alasan yang cukup kuat untuk memasukkan pemetaan militer atau yang lainnya ke dalam metode ini.

Secara teoritis, semua kemampuan pengumpulan38 harus dilakukan terhadap target   yang sama untuk memastikan konfirmasi fakta yang independen terhadap hasil yang diperoleh melalui penggunaan satu metode. Karena berbagai kerumitan dan kebutuhan yang berbeda, ini tidaklah selalu praktis untuk dilakukan dan terkadang sangatlah mahal. Jadi sumber terbuka atau informasi yang tersedia secara publik dibutuhkan untuk mengenali kesenjangan pengetahuan, mengkonfirmasi bahwa informasi hanya bisa diperoleh dengan menggunakan metode intelijen tertentu, dan untuk memastikan bahwa kebutuhan yang ada memang membenarkan penggunaan kemampuan pengumpulan yang mahal atau beresiko, dan baru sesudah itu tugas diberikan kepada pengumpul intelijen.

Sistem pengumpulan intelijen tidak boleh digunakan untuk mengumpulkan informasi yang tersedia secara luas dalam masyarakat. Walaupun mungkin akan terkumpul sebagai produk sampingan selama pengumpulan intelijen, informasi publik harusnya didapatkan dengan cara lain tanpa menggunakan cara-cara rahasia.

Kemampuan pengumpulan intelijen yang berbeda-beda seharusnya digunakan hanya untuk mengumpulkan informasi yang secara masuk akal dapat ditetapkan atau sebelumnya telah divalidasi sebagai sesuatu yang penting bagi pembuat kebijakan atau pengguna  intelijen. Lebih jauh lagi, biaya politis yang mungkin ada harus betul-betul diperhitungkan dengan keuntungan potensialnya. Dengan demikian pejabat kebijakan senior haruslah terlibat dalam proses ini.

2.5.2. Analisa

Analisa adalah istilah yang digunakan untuk proses pencocokan, penguraian, dan evaluasi informasi mentah dan dari berbagai sumber diolah menjadi produk intelijen: dalam bentuk peringatan dan laporan situasi, analisa, penilaian, perkiraan, dan kertas briefing. Analisa dan produksi sebaiknya dilakukan dalam kedekatan dengan para pengguna produk intelijen. Dalam mengelola pengumpulan, analisa dapat bertumpu pada metode-metode pengumpulan untuk menyediakan informasi mentah maupun olahan untuk dievaluasi dan kemudian membentuk produk agar sesuai dengan kebutuhan pengguna. Produk ini harus mencakup apa yang diketahui (fakta), bagaimana hal itu diketahui (sumber), dasar pertimbangan (asumsi kunci), dampak dari perubahan dasar pertimbangan (hasil-hasil alternatif), dan apa yang tetap tidak diketahui.

Tujuan utamanya adalah untuk meminimalisasi ketidakpastian yang harus dihadapi oleh para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan tentang keamanan nasional dan kebijakan luar negeri. Analisa juga harus membantu dalam memaknakan isu-isu yang rumit dan menggugah perhatian ke masalah-masalah atau ancaman-ancaman yang akan muncul terhadap kepentingan nasional. Jadi yang penting bukan hanya untuk menentukan apa yang akurat melainkan juga apa yang relevan untuk kebutuhan pembuat kebijakan.

Badan-badan Intelijen tidak boleh memenuhi permintaan analisa bila sebelumnya mereka mengetahui bahwa informasi yang didapatkan melalui intelijen hanya sedikit tingkat relevansinya terhadap analisa keseluruhan dari subyek tersebut. Mereka juga tidak boleh menerima permintaan analisa ketika hal itu dapat dicapai menggunakan sumber-sumber publik yang tersedia kecuali bila para analist atau badan intelijen tersebut dapat memberikan bobot tambahan yang signifikan terhadap analisa materi dari sumber-sumber terbuka.

Referensi:

Aid, Matthew M. and Wiebes, Cees. 2001. Secrets of Signal Intelligence during the Cold War and Beyond. Portland OR: Frank Cass.

Albats, Yevgenia. 1994. The State within a State: The KGB and Its Hold on Russia . Past, Present, and Future. New York: Farrar, Strauss and Giroux.

Andrew, Christopher. 1986. Secret Service: The Making of the British Intelligence Community. London: Sceptre.

Andrew, Christopher and Gordievsky, Oleg. 1991. KGB: The Inside Story of Its Foreign Operations from Lenin to Gorbachev. New York: HarperCollins.

Berkowitz, Bruce D. and Goodman, Allan E. 2000. Best Truth. Intelligence in the Information Age. New Haven & London: Yale University Press.

Black, Ian & Morris, Benny. 1991. Israel.s Secret Wars: A History of Israel.s Intelligence Services. New York: Weidenfels.

Caldwell, George. 1992. Policy Analysis for Intelligence. Center for the Study of Intelligence. Washington D.C.: CIA.

Central Intelligence Agency. July 1995. A Consumer.s Handbook to Intelligence. Doc. No. PAS 95-00010. Washington D.C.: CIA.

Clark, Robert M. 1996. Intelligence Analysis: Estimation and Prediction. Baltimore: American Literary Press.

Dearth, Douglas H. and Goodden, Thomas R. eds. 1995. Strategic Intelligence: Theory and Approach. 2nd ed. Washington D.C.: DIA, Joint Military Intelligence Training Center.

Eftimiades, Nicholas. 1994. Chinese Intelligence Operations. Annapolis: U.S. Naval Institute Press.

Elkins, Dan. 1997. An Intelligence Resource Manager.s Guide. Washington D.C.: Joint

Military Intelligence Training Center. Defense Intelligence Agency.

Henderson, Robert D.A. 2002. Brassey.s International Intelligence Yearbook. 2002 ed. Washington D.C.: Brassey.s.

Herman, Michael. 1996. Intelligence Power in Peace and War. New York: Cambridge

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 8, 2010 in Hankam dan Kamtibmas, Tahukah Anda?, Umum

 

Tag:

2 responses to “Apa Itu Intelijen?

  1. ronanusantara

    Oktober 8, 2010 at 10:54 pm

    semoga dengan adanya intelijen keamanan sebuah negara semakin membaik, bukan malah menyetir pemerintahan yang ada..

     
  2. Prabugomong

    Oktober 8, 2010 at 11:37 pm

    seharusnya demikian……tetapi kadang terjadi, intelijen dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa, bukan untuk kepentingan nasional….tp kita berharap negara kita atau pemimpin nasional kita tidak seperti itu…t ksh atas komentnya

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: