RSS

Alasan Logis Wanita Untuk Chatting

21 Sep

Demikian hasil penelitian terbaru tentang bagaimana wanita memandang temannya, berbagi dengan teman membantu wanita hidup lebih bahagia, dan bergaya hidup lebih seimbang.

Penelitian menunjukkan tiga di antara empat wanita (76 persen) mengaku plong setelah membagi masalahnya dengan teman. Sementara 73 persennya mengatakan, memperbincangkan gosip dan tertawa bersama membuat perasaan lebih rileks. Jelas bahwa meski hidup makin modern, kebersamaan dengan teman tetaplah penting.

Menjaga kepercayaan juga hal yang tak kalah penting, dan 55 persen wanita mengaku akan membiarkan sahabatnya mengatur kencan buta untuknya.

Psikolog Jenni Trent-Hughes menegaskan hal ini. “Kita punya teman untuk menjadikan perasaan lebih baik. Pelepasan hormon endorphins terjadi saat kita tertawa, hidup tenang di usia tua, dan menggosipkan hal seputar fesyen. Plus, membuat kita merasa lebih bahagia, baik hati maupun pikiran. Pelepasan ini seperti terjadi selama aktivitas bercinta dan saat-saat bahagia lainnya.”

Kajian Hukum Dan Sosiologi

Istilah hukum adalah kata yang menakutkan bagi orang awam karena ketidaktahuannya mengetahui hukum. Lain halnya dengan para pengkaji atau penstudy masalah-masalah hukum, tentunya hukum adalah hal yang sangat biasa menjadi pembahasan. Orang awam telah salah mempersepsikan hukum yang mana dianggap sebagai eksekutor para bandit. Padahal, hukum sebenarnya bukan eksekutor saja, akan tetapi juga pengadil dan penyetara atau pemerata umat manusia sehingga merasakan keadilan sosial.

Sabian Utsman dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Sosiologi Hukum; Makna Dialog antara Hukum & Masyarakat,” menguraikan bagaimana hukum itu berfungsi pada masyarakat keseluruhannya. Berbicara tentang hukum, tentunya tidak terlepas dari manusia (secara individu) atau sekelompok manusia (masyarakat). Antara hukum dengan manusia tentunya sangat berkaitan erat karena pada dasarnya hukum berupa kaidah-kaidah yang menjadi peraturan dalam kehidupan manusia. Pada ranah sosial, hukum menjadi suatu peraturan yang mengatur manusia secara sosial. Dengan demikian, hukum mengatur hubungan antara individu dengan individu lainnya, individu dengan kelompok, ataupun kelompok dengan kelompok lainnya.

Manusia adalah makhluk sosial yang mana membutuhkan peraturan yang mampu membuat peradilan dan kesepakatan. Sejak manusia dilahirkan ke dunia ini sesungguhnya ia adalah bagian yang tidak bisa dilepaspisahkan dari manusia yang lain paling tidak terhadap ibu, ayah, saudara-saudaranya dan atau lingkungan tetangga, serta kalangan lebih luas lagi masyarakat secara keseluruhan. Sadar atau tidak disadari, pada hakikatnya mereka diatur oleh nilai-nilai yang kemudian menjadi pola-pola atau variabel-variabel kehidupan yang secara evolusi atau revolusi membentuk budaya. Kehidupan masyarakat juga diatur oleh berbagai macam aturan yang merupakan kaidah-kaidah yang dipatuhi atau ditaati serta bagi yang melanggarnya akan menerima sanksi (hal. 3).

Dengan demikian, hukum berjalan beriringan dengan manusia sehingga membentuk nilai-nilai dan pola-pola sosial masyarakat. Hukum pada dasarnya mempunyai hakikat sebagai organisme yang hidup, hal itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Von Savigny bahwa hukum akan tetap hidup dan berkembang berseiring dengan perkembangan masyarakatnya, atas dasar otoritasnya sendiri yang moral.

Manusia dalam tataran sosial, membutuhkan suatu kaidah-kaidah untuk mengatur keadilan dan tingkah laku manusia itu sendiri, bahkan hingga membatasi perilaku manusia untuk memunculkan suatu kehidupan yang harmonis dalam bersosial. Dan bagi siapa saja yang melanggarnya, kaidah-kaidah tersebut akan memberikan sanksi sesuai dengan kadar pelanggarannya. Kaidah-kaidah itulah yang disebut sebagai hukum. Secara singkat, hukum adalah suatu kontrol sosial dalam kehidupan manusia.
Secara resmi, hukum tertulis dalam kitab hukum. Hukum dalam agama tertulis secara riil dalam kitab-kitab suci yang menjadi pedoman umat manusia itu sendiri sebagai pemeluk agama yang bersangkutan. Sementara dalam bernegara, hukum didasarkan pada undang-undang yang kemudian melahirkan tulisan-tulisan kaidah hukum.

Namun demikian, adakalanya hukum itu tidak tertulis akan tetapi secara implisit telah menjadi kesepakatan umum suatu kelompok sosial. Hal itu lahir dari rahim adat-istiadat suatu daerah masing-masing kelompok. Itulah yang sering kali disebut norma, sopan santun, atau hukum adat. Hukum tidak tertulis itu juga menjadi kontrol sosial yang mana dalam masyarakat suatu daerah berbeda-beda antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Hal itu tidak mengherankan karena masing-masing daerah mempunyai sejarah adat-istiadat yang berlainan.

Dengan demikian, hukum yang secara sosial menjadi kontrol dan sosiologi menjadi suatu kajian yang membahas permasalahan sosial, sangat berkaitan dan melahirkan satu disiplin ilmu baru, yakni sosiologi hukum. Tentunya sangat menarik suatu hukum dibicarakan dalam satu ruang diskusi dengan sosiologi, hal itu karena hukum memang bagian dari kehidupan manusia dan manusia adalah makhluk sosial. Meski demikian, ada beberapa tokoh yang mengingkari dan cenderung kurang setuju dengan sosiologi hukum seperti Auguste Comte dan Pavlov.

Sosiologi hukum merupakan satu disiplin ilmu yang relatif masih muda sehingga perkembangan di dalamnya pun relatif masih sering terjadi. Menurut George Gurvitch (1961), sosiologi hukum adalah bagian dari sosiologi sukma manusia yang menelaah kenyataan sosial sepenuhnya dari hukum, mulai dengan pernyataan yang nyata dan dapat diperiksa dari luar, dalam kelakuan kolektif yang efektif (organisasi yang membeku, praktik dan tradisi keadaan atau pembaruan dalam kelakuan) dan dalam dasar materialnya (struktur keruangan dan kepadatan demografis lembaga-lembaga hukum).
Karena sosiologi hukum menelaah kenyataan sosial, tentunya sosiologi hukum mencakup permasalahan sosial dan permasalahan hukum. Dengan demikian, kajian-kajiannya bertumpu pada keduanya secara kolektif dan saling bersinergi.

Dengan membaca buku yang berjudul “Dasar-Dasar Sosiologi Hukum; Makna Dialog antara Hukum & Masyarakat,” para pembaca akan dikenalkan dengan istilah-istilah hukum dan sosiologi serta pemahamannya. Melalui buku ini, penulis mengupas secara arif signifikansi sebuah kajian sosiologis terhadap hukum, untuk memahami makna ketertarikan dialektis antara hukum dengan masyarakat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 21, 2010 in Tahukah Anda?, Umum

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: