RSS

Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya

01 Nov

Bab. 1. Pendahuluan. Penyakit sosial disebut juga sebagai penyakit masyarakat, masalah sosiopatik, gejala disorganisasi sosial, gejala disintegrasi sosial, dan gejala deviasi (penyimpangan) tingkah laku. Semua tingkah laku sosial yang sakit secara sosial merupakan penyimpangan sosial yang sukar diorganisir, sulit diatur dan diitertibkan sebab para pelakunya memakai cara penyelesaian sendiri yang konvensional, tidak umum, luar biasa atau abnormal sifatnya. Penyakit sosial atau penyakit masyarakat adalah segala bentuk tingkah laku yang dianggap tidak sesuai , melangar norma-norma umum, adapt istiadat, hukum formal, atau tidak bias diintegrasikan dalam pola tingkah laku umum. Ilmu tentang penyakit sosial disebut sebagai patologi sosial, yang membahas gejala-gejala sosial  yang sakit atau menyimpang dari pola perilaku umum yang disebabkan oleh fakor-faktor sosial. Tingkah laku menyimpang secara sosial tadi juga disebut sebagai diperensiasi sosial,karena terdapat diperensiasi atau perbedaan yang jelas dalam tingkkah lakunya,yang berbeda dengan cirri-ciri karakteristik umum, dan bertentangan dengan hukum,atau melanggar peraturan formal.

Bab 2

Definisi juvenile delinquency

 

Juvenile berasal dari kata latin juvenilis, artinya: anak-anak, anak muda, cirri karakteristik masa muda, sifat-sifat khas pada masa remaja. Delinquent berasal dari kata latin (delinquere) yang berarti; terabaiakan, mengabaikan. Juvenile delinquency adalah perilaku jahat/dursila , atau kejahatan/kanakalan anak-anak muda; meupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak  dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Pengaruh sosial dan cultural sangat mempengaruhi pembentukan atau pengkondisian tingkah laku criminal anak-anak remaja. Segala kenakalan yang dilakukan oleh anak yang muncul merupakan akibat dari proses perkembangan pribadi anak yang mengandung  unsure dan usaha:

1.      kedewasaan seksual

2.      pencarian suatu identitas kedewasaan

3.      adanya ambisi materiil yang tak terkendali

4.      kurang atau tidak adanya disiplin diri.

 

Kejahatan anak-anak remaja ini merupakan produk sampingan dari:

1.      pendidikan masal yang tidak menekankan pendidikan watak dan kepribadian anak

2.      kurangnya usaha orangtua dan orang dewasa menanamkan moralitas dan keyakinan baragama pada anak-anak muda

3.      kurang ditumbuhkannya tanggung jawab sosial pada anak-anak remaja

 

Adapun motif yang mendorong remaja melakukan tindak kejahatan dan kedursilaan antara lain:

1.      untuk memuaskan kecenderungan keserakahan

2.      meningkatnya agresifitas dan dorongan seksual

3.      salah asuh dan salah didik orangtua, sehingga anak menjadi lemah mentalnya

4.      hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru

5.      kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal

6.      konflik batin sendiri, dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional.

Bab 3

pendekatan humaniter

 

 

pemahaman dan pendekatan secara humaniter terhadap juvenile delinquency dilakukan atas dasar beberapa pertimbangan, yaitu:

 

1.      didasarkan atas pandangan hidup dan falsafah hidup kemanusiaan

2.      kebutuhan akan perawatandan perlindungan terhadap anak-anak remaja yang nakal

3.      untuk menggolongkan anak-anak dan remaja yang delique tersebut kedalam satu kategori yang berbeda dengan kategori kriminalitas orang dewasa

4.      untuk menerapkan prosedur-prosedur peradilan, penghukuman, penyembuhan dan rehabilitasi khusus

5.      adany tugas “parent patriae” sebagai orangtua dan bapak oleh orang tua dan masyarakat.

 

Penanganan terhadap masalah kejahatan anak, antara lain dengan jalan menyelenggarakan upaya:

a.       mendirikan panti rehabilitasi dang pengoreksian

b.      peradilan anak-anak

c.       badan kesejahteraan anak

d.      foster home placement

e.       UU khusus untuk pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak dan para remaja

f.       Sekolah bagi anak-anak gembel

g.      Rumah tahanan bagi anak-anak dan lain-lain.

Bab 4

Ciri-ciri karakteristik gang

 

 

Pada intinya gerombolan anak laki-laki dari suatu gang dengan cirri-ciri sosial dan criminal itu adalah anak-anak yang normal; namun oleh beberapa pengabaian  dan upaya mencari kompensasi bagi segala kekurangannya, menyebabkan anak-anak tersebut menjadi jahat. Gang delinquent banyak tumbuh dan berkembang di kota-kota besar, dan bertanggung jawab atas banyaknya kejahatan dalam bentuk: pencurian, perusakan milik orang lain dll.

Kebanyakan gang pada awalnya merupakan kelompok bermain yang beroperasi bersama-sama untuk mencari pengalaman baru yang menggairahkan, dan melakukan eksperimen yang merangsang jiwa mereka. Didalam gang tersebut akan timbul benturan untuk memperebutkan peranan sosial tertentu. Muncullah kemudian seseorang atau beberapa orang pemimpin. Berikut adalah ciri-ciri sebuah gang:

1.      jumlah anggotanya berkisar antara 3-40 orang anak remaja

2.      anggota gang lebih banyak terdiri dari anak laki ketimbang anak perempuan.

3.      kepemimpinan ada ditangan seorang anak muda yang diaggap paling banyak berprestasi.

4.      relasi diantara anggota mulai dari keterikatan yang longgar sampai pada hubungan intim.

5.      sifat gang sangat dinamis dan mobil (sering berpindah-pindah).

6.      tingkah laku delinquent dalam gang ituumumnya bersifat episodic.

7.      kebanyakan gang delinquent itu terlibat dalam bermacam tingkah laku melanggar hukum yang berlaku ditengah masyarakatnya.

8.      usia anggota gang yang bervariasi.

9.      umur anggotanya berkisar antara 7-25 tahun.

10.  dalam waktu yang relative pendek, anak-anak itu berganti-ganti peranan, disesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan.

11.  anggota gang biasanya bersifat konvensional

12.  di dalam gang sendiri anak-anak tersebut mendapatkan status sosial dan peranan tertentu sebagai imbalan partisipasinya.

13.  ada beberapa bentuk gang, antara lain gang perkelahian, gang pemilikan, gang kejahatan, gang penggunaan obat narkotika dan minuman alcohol.

Untuk mengatasi semua kesulitan yang dialami oleh remaja tadi, maka diperlukan adanya:

§  pendidikan hati nurani

§  pendisiplinan diri secara ketat

§  ditegakkan sistem control sosial yang terorganisir dengan baik untuk mengamankan daerah-daerah rawan.

 

Anak-anak delinquent mempunyai karakteristik yang sangat berbeda dengan anak-anak non-delinquen, yaitu:

a.       struktur intelektualnya

b.      kondisi pisik dan psikis

c.       cirri karakteristik individual.

 

Bab 5

Wujud perilaku delinquent

 

 

Wujud perilaku delinquent adalah:

1.      Kebut-kebutan dijalanan

2.      perilaku ugal-ugalan, urakan yang mengacaukan ketenteraman wilayah sekitar

3.      perkelahian antar gang, antar kelompok, antar sekolah. Dll

4.      membolos sekolah

5.      kriminalitas anak, remaja dan adolesens.

6.      berpesta pora sambil mabuk-mabukan

7.      perkosaan

8.      kecanduan dan ketagihan bahan narkotika

9.      tindak-tindak immoral seksual secara terang-terangan

10.  homoseksualitas, erotisme anal dan oral

11.  perjudian dan bentuk-bentuk permaianan lain dengan taruhan, sehingga menimbulkan ekses kriminalitas

12.  komersialisasi seks

13.  tindakan radikal dan ekstrim

14.  perbuatan a_sosial dan anti sosial

15.  tindak kejahatan disebabkan oleh penyakit tidur

16.  penyimpangan tingkah laku disebabkan oleh kerusakan pada karakter anak yang menuntut kompensasi, disebabkan adanya organ-organ yang inferior(adler, 1952).

 

Banyak perbuatan kejahatan anak-anak dan remaja tidak dapat diketahui, dan tidak dihukum disebabkan antara lain oleh:

a.       kejahtannya dianggap sepele

b.      orang segan dan malas behubungan dengan polisi dan pengadilan

c.       orang merasa takut akan adanya balas dendam.

 

Menurut penelitian para sarjana dari beberapa Negara, selama 30 dekade terakhir ini jumlah kejahatan anak-anak muda remaja melebihi kejahatan orang dewasa, khususnya di Negara-negara maju. Maka dapat dinyatakan bahwa ada korelasi antara kebudayaan kemakmuran , struktur sosial, dan pengalaman individu yang patologis dalam suatu masyarakat.

Bab 6

Beberapa teori mengenai sebab terjadinya juvenile delinquency

Kejahatan remaja yang merupakan gejala menyimpang dan patologis secara sosial itu dapat dikelompokan dalam satu kelas defektif secara sosial, dan mempunyai sebab-musabab yang majemuk jadi sifatnya multi kausal. Secara sosial, kenakalan remaja dapat digolongkan dalam satu kelas detektif secara sosial dan mempunyai sebab-musabab yang majemuk. Para sarjana menggolongkannya menurut beberapa teori, sebagai berikut

1.      teori biologis. adalah tingkah laku kenakalan remaja dapat muncul karena factor-faktor fisiologis dan struktur jasmaniah seseorang.

2.      teori psikogenis, teori ini  menekankan sebab-sebab kenakalan anak dari aspek psikologis atau sisi kejiwaannya.

3.      terori sosiogenis, penyebab kenakalan pada remaja adalah murni sosiologis atau sosio-psikologis sifatnya. Misalnya disebabkan oleh pengauh struktur sosial yang deviatif, tekanan kelompok, peranan sosial, status sosial atau internalisasi simbolis yang keliru.

4.      teori subkultur delinkuensi, sejak th 1950 keatas banyak perhatian pada aktivitas-aktivitas gang yang terorganisir dengan subkultur-subkulturnya.menurut teori subkultur ini, sumber juvenile delinquency adalah sifat-sifat suatu struktur sosial dengan pola budaya (subkultur yang khas dari langkungan familial, tetanga dan masyarakat yang didiami oleh para remaja delinquent tersebut.

 

Sifat-sifat masyarakat tersebut adalah:

 

1.      punya populasi yang padat

2.      status sosial ekonomis penghuninya rendah

3.      kondisi fisik perkampungan yang sangat  buruk

4.      banyak diorganisasi familial dan sosial bertingkat tinggi.

Fakta menunjukkan, bertambahnya  jumlah delinkuensi terjadi pada masyarakat dengan kebudayaan konflik tinggi, dan terdapat di Negara-negara yang mengalami banyak perubahan sosial yang serba cepat. Daerah yang mengalami proses perubahan cepat itu antara lain:

a.       daerah pelabuhan

b.      kawasan militer

c.       kawasan industri

d.      pusat perdagangan

e.       ibu kota

f.       pangkalan udara dan laut.

 

 

 

Bab 7

Delinkuensi individual, situasional, sistematik, kumulatif

Delinkuensi pada remaja dapat digolongkan kedalam empat kelompok yaitu:

1.      delinkuensi individual

2.      delinkuensi situasional

3.      delinkuensi sistematis

4.      delinkuensi kumulatif.

 

1.   Delinkuensi individual, tingkah laku criminal anak merupakan gejala personal atau individual dengan ciri khas jahat, disebabkan oleh predisposisi dan kecenderungan penyimpangan tingkah laku (psikopat, psikotis,  neurotis, a-sosial) yang diperhebat oleh stimuli sosial dan kondisi cultural.

 

2.   Delinkuensi situasional, dilakukan oleh anak yang normal, namun mereka banyak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan situasional, stimuli sosial dan tekanan lingkungan yang semuanya memberikan pengaruh “menekan-memaksa” pada pembentukan pibadi buruk. Masalah pokok pada anak-anak delinkuensi adalah mereka berkeputusan mau menjadi delinkuen, berdasarkan keputusan dan kemgauan sendiri karena dirangsan kebutuhan sesaat.

 

3.   Delinkuensi sistematik, dikemdian hari perbuatan criminal anak-anak remaja disistematisir dalam bentuk satu organisasi, yaitu Gang. Kumpulan tingkah laku yang disistematisir itu disertai pengaturan, status formal, peranan tertentu, nilai-nilai, norma-norma, rasakebanggaan, dan moral delinkuen yang berbeda dengan yang umum berlaku.

 

 

4. delinkuensi kumulatif, situasi sosial dan kondisi cultural buruk yang repetitive terus menerus dan berlangsung berulang kali dapat mengintensifkan perbuatan kejahatan remaja, sehingga menjadi bersifat kumulatif, yaitu: terdapat dimana-mana, dihampir semua ibukota, kota-kota dan bahkan juga didaerah pinggiran pedesan. Secara kumulatif gejala tadi menyebar luas ditengah masyarakat, lalu menjadi fenomena disorganisasi /disintegrasi sosial dengan subkultur delinkuen ditengah kebudayaan suatu bangsa.

 

Tingkah laku delinkuen yang membbudaya ditengah masyarakat (delinkuensi remaja yang kumulatif) mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

1.      mengandung banyak dimensi ketegangan syaraf, kegelisahan batin dn keresahan hati pada para remaja.

2.      merupakan adolescent revolt (pemberontakan adolescent) terhadap kekuasaan dan kewibawaan orang dewasa.

3.      banyak terdapat penyimpangan seksual disebabkan oleh penundaa saat kawin jauh sesudah kematangan biologis.

4.      banyak terdapat tindakan ekstrim radikal yang dilakukan oleh para remaja yang menggunakan cara-cara kekerasan, pembunuhan, zibaku, tindakan bunuh diri, meledakkan bom dan dinamit dll.

 

Bab 8

Klasifikasi dan tingkat kejahatan remaja

 

 

Pembagian juvenile delinkuensi berdasarkan cirri kepribadian  yang defek, yang mendorong mereka menjadi delinkuen. Anak-anak tersebut umumnya bersifat pendek piker, sangat emosional,. Agresif, tidak mampu mengenal nilai-nilai etis, dan cenderung suka menceburkan diri dalam perbuatan yang berbahaya. Hati nurani mereka hamper tidak dapat di gugah, beku. Tipe delinkuensi menurut struktur kepribadian ini dibagi atas:

1.      delinkuensi terisolir

2.      delinkuensi neurotik

3.      delinkuensi psikopatik

4.      delinkuensi defek mental

 

keempat tipe ini membedakan mereka dari tipe lainnay , juga sangat bebeda dengan anak normal yang non_delinkuen.

Bab 9

Pengaruh keluarga terhadap kemunculan kenakalan remaja

 

 

Kualitas rumah tangga mempunyai peranan yang besar terhadap pembentukan kepribadian remaja delinkuen. Misalnya rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kamatian ayah ibu, perceraian, hidup terpisah antara ayah dan ibu, poligami, dll.

Delinkuen yang dilakukan remaja itu umumnya merupakan produk dari konstitusi defektif mental orangtua, anggota keluarga dan lingkungan tetangga dekat, ditambah dengan nafsu primitive dan agresivitas yang tidak terkendali. Semua itu mempengaruhi mental dan kehidupa perasaan anak-anak muda yang belum matang dan sangat labil.dikemudian hari proses ini berkembang menjadi bentuk defektif mental sebagai akibat dari proses pengkondisian oleh lingkungan sosial yang buruk/jahat. Kriminalitas yang terjadi pada remaja merupakan kegagalan sistem pengontrolan diri, yatu gagal mengawasi dan mengatur perbuatan instinktif mereka.

Fakta menunjukkan bahwa tingkah laku delinkuen tidak hanya terbatas pada golongan ekonomi rendah, tetapi juga muncul pada semua kelas, khususnya dari keluarga yang berantakan. Pola keluarga yang patologis selalu membuahkan masalah psikologis, konflik terbuka dan tertutup, serta menjadi penyebab utama timbulnya juvenile delinkuency. Semua bentuk kericuhan batin dan tingkah laku anak yang patologis merupakan pencerminan dari gaya hidup yang typis dari satu keluarga yang “sakit”  secara sosial.

Secar umum dapat dinyatakan bahwa anak delinkuen pada umumnya dating dari rumah tangga dengan relasi manusiawi penuh konflik dan percekcokkan, yang disharmonis. Karena anak-anak delinkuen tersebut melihat dunia sekitar mereka dengan rasa curiga dan menganggap manusia lain sebagai ancaman, suka menghukum anak-anak kecil dan orang muda, lalu mereka menjadi agresif.

Ada interelasi internal dan eksternal dari bermacam variable yang membawa anak-anak kejalan criminal (Mc Cord dkk. 1959). Variable-variabel yang memberikan dampak buruk jahat itu dapat dikompensir oleh peristiwa sebagai berikut:

1.      konstitusi psikofisik yang defek dan pengaruh buruk subkultur gang yang delinkuen yang ada disekitar.

2.      ayah yang kejam dan sadis.

3.      tidak konsekuen pendisiplinan terhadap anak.

 

Situasi dan kondisi lingkungan awal kehidupan anak, yaitu keluarga (orang tua dan kerabat dekat), jelas mempengaruhi pembentukan pola delinkuen anak-anak dan para remaja.

 

Ayah dan ibu yang abnormal dan dampak negatifnya:

Pribadi ibu yang tidak terpuji  dengan perilaku sebagai berikut:

1.      relasi antara ibu dengan anak yang tidak harmonis

2.      perpisahan dengan ibu kandung pada tahun-tahun awal usia anak

3.      menjauhakan anak dari sumber gizi dan rasa aman terlindung

4.      terputusnya relasi simbiotik antara ibu dengan anak

5.      ibu-ibu yang neurotic dan psikopatik.

 

Kelima peristiwa diatas menyebabkan anak-anak dan para remaja tidak mampu mengambangkan kehidupan perasaan yang wajar, dan menjadi criminal serta a_sosial.

 

 

Bab  10

variasi ekologis,semakin melemahnya control orang dewasa, dan pengaruh faham individualisme

 

A.    VARIASI EKOLOGIS

 

Perpindahan tempat tinggal dari desa ke kota dan perpindahan tempat tinggal yang berkali-kali dari kota kecil yang satu ke kota lain, kedua hal tetrsebut mengakibatkan sulitnya penyesuaian diri bagi anak ditengah masyarakat, baik yangn berupa lingkungan sosial yang menguntungkan maupun yang buruk. Khusunya apabila kedatangan keluarganya tidak diterima dengan ramah oleh lingkungan yang baru.

Dilihat dari variasi ekologis, terdapat relasi langsung antara juvenile delinkuensi dengan urbanisasi. Degradasi mental dan keterbelakangan mental sering disertai pengertian rendah dan pemahaman minim mengenai nilai sosial dan norma etis. Ditengah masyarakat modern dikota-kota besar, banyak orang yang selalu merasa digelitik oleh ambisi materil yang tinggi, namun kemampuan ekonomis dan keterampilan teknis untuk memuaskan ambisi tersebut tidak dimilikinya.

 

Menurut studi yang dilakukan, ada beberapa unsure kejahatan yang dilakukan oleh remaja:

1.      kekecewaan hebat karena merasa tidak diterima oleh lingkungannya

2.      mengalami frustasi karena tidak mampu mendapatkan objek yang diinginkan, dan

3.      diliputi oleh perasaan tidak aman.

 

Kejahatan pada anak-anak dan orang muda biasanya juga berkaitan erat dengan dengan masalah:

1.      pengangguran dan sulitnya mendapatkan pekerjaan

2.      penghasilan yang sangat minim ditengah kemewahan masyarakat kota

3.      ketidak pastian ekonomi

4.      disorganisasi sosial dan disorganisasi familial.

 

B.     MELEMAHNYA KONTROL ORANG DEWASA, PAHAM INDIVIDUALISME “KEHILANGAN RELATIF” DAN PEMBENTUKAN GANG-GANG

 

Dalam masyarakat midern sekarang pendidikan merupakan mekanisme vital untuk mengalokasikan  remaja dan orang muda kedalam posisi-posisi individu, terutama dalam sector pekerjaan dan jabatan. Karena itu muid-murid yang merasa tidak sukses di sekolah mempunyai alas an kuat untuk menjadi putus asa, dan tidak memiliki keberanian hari esoknya. Keputusan mereka sering menjadi anteseden atau pendahulu bagi kecenderungan rebeli ( melakukan pemberontakan) serta menjadi criminal (Sincombe, 1964;Toby & Toby, 1961).

Pukulan-pukulan batin dan perasaan putus asa pada remaja apabila terjadi secara serius sifatnya dan berlangsung cukup lama, bias menjadi alas an kuat untuk menceburkan diri kedalam dunia gang-gang delinkuen.

Kondisi sosial yang patologis telah menyebabkan control orang dewasa terhadap para remaja dan adolesen semakin berkurang. Dalam situasi sosial yang semakin longgar, anak-anak muda kemudian menegakkan eksistensi dirinya yang dirasakan sebagai “tersisih dan teranacam”. Merka lalu memasuki satu unit “keluarga baru” dengan subkultur baru yang bersifat delinkuen. Denga sengaja mereka menjauhi pergaulan normal dan pendidikan normal yang semula diikuti. Dalam gang ini anak muda mengembangkan solidaritas keremajaan yang anti-sosial sifatnya disebabkan oleh perasaan tidak puas terhadap kondisi lingkungan dan kewibawaan orang dewasa. Maka dalam masyarakat modern sekarang sangat dimungkinkan munculnya gang-gang anak berandalan, karena anak-anak typis tidak dalam kondisi terawasi dan terkontrol secara baik oleh orang dewasa.

Bab 11

Masyarakat Modern dan Kasus Juvenile Delinquency

 

Pengaruh sosial dan cultural memainkan peranan besar dalam menentukan tingkah laku dilinquen pada anak-anak remaja.

Pada masyarakat yang “kebudayaan kemiskinan”  yang memiliki kebudayaan penuduk tinggi dan sangat minim fasilitas fisiknya, ditambah dengan banyak kasus penyakit dan pengangguran , dapat memberikan tekanan-tekanan tertentu; juga memberikan rangsangan kuat kepada anak untuk menjadi delinkuen. Anak-anak muda dari kelas menengah terutama yang terdapat di kota-koota besar dan metropolis biasanya memiliki banyak waktu kosong. Untuk mengisi waktu luang mereka banyak menyibukkan diri dengan kegiatan iseng.

Pada umumnya anak muda dari kelas menengah di kota-kota melakukan banyak perbuatan destruktif karena didorong oleh:

1.      kebutuhan untuk menonjolkan ego mereka

2.      dorongan untuk menghilangkan kejemuan dan mengisi kekosongan hati.

 

A.    Dorongan pergolakan sosial

 

Dilihat secara sosiologis, bertambahnya kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak remaja dan orang muda dapat juga disebakan oleh produk pergolakan sosial. Mosalnya merupakan produk masa transisi, proses urbanisasi, perang, revolusi,  dll. Periode tersebut banyak membuahkan pribadi terlantar dan individu salah tempat yang tidak sanggup melakukan adaptasi terhadap tekanan ekonomi dan tuntutan lingkungan.

Banyak fakta membuktikan adanya relasi akrab antara kemiskinan denan tingginya kejahatan. Kualitas dan tipe kejahatan juga sangat bervariasi di setiap daerah. Tingkat kejahatan kelas menengah dan kelas tinggi (dilakukan oleh orang-orang muda dari kelas sosial-ekonomis menengah), ternyata lebih banyak jumlahnya di daerah-daerah kelas sosial-ekonomis tinggi daripada di daerah-daerah kelas rendah. Disamping itu fakta juga menunjukkan bahwa tingkat delinkuensi semakin tinggi  dan semkin bertambah dengan meningkatnya konflik sosial; khususnya dinegara-negara yang mengalami proses perubahan serba cepat.

Studi cross national (antarnegara) menunjukkan bahwa sebab musabab timbulnya kejahatn remaja kelas  menengah dan inggi adalah:

1.      keluarga yang beratakan

2.      lingkungan dekat dan lingkungan tetangga yang buruk

3.      lingkungan sosial dan budaya yang tidak menguntungkan

4.      lokasi dalam orde sosial

5.      mass society (masyarakat sosial).

 

B.     Frustasi, depersonalisasi dan anomaly pada periode sivilisasi modern

 

Dalam sivilisasi masyarakat modern dan berkat proses industrialisasinya, orang dapat menikmati hidup sejahtera dalam iklim sosial penuh kemakmuran dan percepatan perubahan. Namun disebabkan oleh banyak dan pesatnya perkembangn tadi, orang bergerak ditengah-tengah struktur masyarakat yang terpecah-pecah, yang kemudian berubah menjadi kelompok atomistis dan sangat mobil sifatnya.

 

Kelompok yang kalah bersaing dan biasanya ada dalam posisi yang lemah dalam pergaulan adalah:

1.      Kelompok minoritas etnis

2.      rakyat dari kelas sosial-ekonomis rendah di daerah slum dan di daerah pedesaan

3.      anak-anak dan orang-orang muda yang sangat bergantung pada “kebaikan” orang dewasa.

 

Dipusat industri, anak laki-laki pad umumnya menduduki tingkat kejahatan lebih tinggi daripada anak perempuan. Di kota-kota besar dan modern rasio kejahatan diantara anak laki-laki dan anak perempuan kurang lebih 50:1. sebab-sebabnya antara lain:

1.      factor jasmani atau kekuatan fisik yang lebih besar pada ank laki-laki yang diperlukan untuk mobilitas, bergerak dengan cepat dan menggunakan  tindak kekerasan

2.      norma susila yang lebih ditekankan pada ank perempuan, berupa tabu dan larangan bagi anak-anak gadis untuk melakukan kejahatan

3.      anak perempuan lebih banyak melakukan praktek seks bebas daripada melakukan kejahatan.

 

C.     Perbedaan rural dan yang urban dan perbedaan ekonomis

Jumlah remaja delinkuen pada masyarkat tani jumlahnya sedikit sekali jika dibandingkan dengan remaja criminal yang ada dikota, khusunya kota besar dan ibu kota. Perbandingan jumlah tersebut kira-kira 1:10. namun dengan semakin banyaknya infiltrasi pengaruh urban ke daerah pedesaan, jadi berlangsung proses urbanisasi yang semakin deras, daerah rural juga banyak mengalami perubahan. Dapat kita pahami disini bahwa masalah inti anak remaja delinkuen yang berasal dari kelas ekonomi sosial rendah adalah: kesusahan dan kepedihan hati mereka karena tidak mampu berssaing bebas melawan kelompok pemuda yang kaya ditengan masyarakat ramai, disebabkan oleh kurangnya privilege dan fasilitas materil.

Maka untuk memainkan peranan sosial tertentu dan untuk memberikan arti bagi eksistensi hidupnya, juga untuk mengangkat martabat dirinya serta menegakkan fungsi egonya, secaera bersama-sama mereka melakukan perbuatan kejahatan. Maksu utama perbuatan tersebut adalah:

1.      untuk menarik perhatian orang luar

2.      menegakkan egonya yang dianggapnya terancam dan tersisih secara tidak adil

3.      mencari bobot dan arti bagi hidupnya.

 

Beberapa penyebab terjadinya delinkuensi pada remaja berasal dari factor-faktor sebagai berikut:

1.      disorganisasi familial

2.      lingkungan tetangga yang rusak dan buruk

3.      subkultur delinkuen sebagai manifestasi ekstrim dari kebudayaan remaja

4.      kondisi sekolah yang kurang menguntungkan

5.      disorganisasi sosial

6.      sempitnya lapangan pekerjaan

7.      kondisi jasmaniah dan lahiriah (psikis) yang lemah

8.      penggunaan mekanisme pelarian diri  dan pembelaan diri yang negative.

Bab 12

Penanggulangan kenakalan remaja

Diliquensi sebagai status yang legal selalu berkaitan dengan tingkah laku durjana.Anak-anak dibawah usia 7 tahun yang normal,pada umumnya tidak mampu membangkitkan niat untuk melakukan tindak criminal. Juvenile delinkuensi menjadi masalah sosial yang semakin gawat pada masa modern sekarang ini, kejahatan anak remaja ini erat kaitannya dengan modernisasi, industrialisasi, urbanisasi, taraf kesejahteraan dan kemakmuran. Tindak delikuen yang dilakukan anak remaja itu banyak menimbulkan kerugian materiil dan kesengsaraan batin baik pada subjek pelaku sendiri maupun pada para korbannya, maka masyarakat dan pemerintah dipaksa untuk melakukan tindakan-tindakan preventif dan penanggulangan secara kuratif.

Tindakan preventif yang dilakukan antara lain:

1.      meningkatkan kesejahteraan keluarga

2.      perbaikan lingkungan

3.      mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif

4.      menyediakan tempat rekreasi yang sehat bagi remaja

5.      membentuk badan kesejahteraan anak-anak

6.      mengadakan panti asuhan

7.      mengadakan lembaga reformatif untuk memberikan latihan korektif

8.      membuat badan supervise dan pengontrol terhadap kegiatan anak delinkuen, disertai program korektif

9.      mengadakan pengadilan anak

10.  menyusun UU khusus untuk pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan oleh anak dan remaja

11.  mendirikan sekolah bagi anak gembel (miskin)

12.  mengadakan rumah tahanan bagi anak dan remaja

13.  menyelenggarakan diskusi kelompok dan bimbingan kelompok untuk membangun koontak manusiawi diantara para remaja dlinkuen dengan masyarakat luar

14.  mendirikan tempat latihan untuk menyalurkan kreativitas para remaja delinkuen dan nondelinkuen.

Selanjutnya usaha kuratif  bagi usaha penyembuhan anak delinkuen antara lain:

 

1.      menghilangkan semua sebab-musabab timbulnya kejahatan remaja

2.      melakukan perubahan lingkungan dengan jalan mencarikan orang tua angkat dan memberikan fasilitas yang diperlukan bagi perkembangan jasmani dan rohani yang sehat bagi anak-anak remaja

3.      memindahkan anak-anak nakal ke sekolah yang lebih baik

4.      memberikan latihan bagi para remaja untuk hidup teratur, tertib dan berdisiplin

5.      memanfaatkan waktu senggang di kamp latihan

6.      menggiatkan organisasi pemuda dengan program-program latihan vokasional untuk mempersiapkan anak remaja delinkuen iiitu bagi pasaran kerja dan hidup ditengah masyarakat

7.      memperbanyak lembaga latihan kerja dengan program kegiatan pembangunan

8.      mendirikan klinik psikologi untuk meringankan dan memecahkan konflik emosional dan gangguan kejiwaan lainnya.

Bab 13

Pendahuluan

 

Kajahatan dan kenakalan remaja tidak dapat dilepaskan dari konteks kondisi sosiall budaya  zamannya. Pada tahun 1950_an di Indonesia yang menjadi masalah rumit bagi orang-orang muda ialah adaptasi terhadap kondidi sosial politik baru, yaitu setelah mengalami kemelut menghadapi perebutan kemerdekaan didaerah pegunungan dan pedesaan, kemudian mereka harus melakukan penyesuaian diri terhadap tuntutan kondisi sosial polotik baru di kota-kota besar, ditengah masyarakat orang dewasa dan para pelopor kemerdekaan. Pada tahun 1960_an mulailah muncul “top hits” mengenai kenakalan remaja yaitu berupa berandalan dan tindak-tindak criminal ringan.

Pada tahun 1970_an kenakalan remaja di kota-kota besar di tanah air mulai menjurus pada kejahatan yang lebih serius, antara lain berupa tindak kekerasan, penjambretan secara terang-terangan, dll.

Kejahatan dan kenakalan remaja tersebut erat kaitannya dengan makin derasnya arus urbanisasi dan semakin banyaknya remaja desa yang bermigrasi ke daerah perkotaan tanpa jaminan sosial yang mantap. Pada tahun 1980_an keatas gajala kejahatan remaja ini semakin meluas, baik dalam frekuensi maupun dalam keseriusan kualitas kejahatannya.

Bab 14

Hakikat kenakalan remaja dan arti perkelahian antar kelompok

 

Tingkah laku delinkuen pada umumnya merupakan kegagalan sistem control diri terhadap impuls-impuls yang kuat dan dorongan-dorongan instinktif. Impuls-impuls kuat, dorongan primitive dan senrimen-sentimen hebat itu kemudian disalurkan lewat perbuatan kejahatan, kekerasan, dan agresi keras, yang diangap mengandung nilai lebih oleh anak remaja tersebut. Pada umumnya gang criminal pada awalnya merupakan kelompok bermain yang dinamis. Permainan yang mula-mula bersifat netral, baik dan menyenangkan, kemudian ditransformasikan dalam aksi eksperimental bersama yang berbahaya dan sering mengganggu atau merugikan orang lain. Pada akhirnya kegiatan tadi ditingkatkan menjadi perbuatan criminal. Dengan semakin meningkatnya kegiatan bersama dalam bentuk keberandalan dan kejahatan itu mereka lalu menentukan padang perburuan operasionalnya sendiri.

 

Kegemaran perkelahian massal antar sekolah dan antar kelompok remaja mencerminkan dua peristiwa penting, yaitu:

 

§  merupakan pencerminan secara mini dari perilaku masyarakat orang dewasa pada saar sekarang

§  disamping mencerminkan peningkatan ambisi dan pelampiasan reaksi-frustasi negative, sebab mereka merasa marah, tertekan dan dihalang-halangi “untuk menjadi” oleh masyarakat luar.

 

Bab 15

Faktor penyebab terjadinya perkelahian antar-sekolah dan antar-kelompok

 

Kegemaran berkelahi diantara anak-anak sekolah di kota-kota besar , khusunya di Jakarta disebabkan oleh dua factor internal dan eksternal.

§  Factor internal berlangsung lewat proses internalisasi diri yang keliru oleh anak-anak remaja dalam menanggapi milieu disekitarnya dan semua pengaruh dari luar.

§  Factor eksternal, dikenal juga sebagai pengaruh alam sekitar, factor sosial atau factor sosiologis.

 

A.    Faktor internal

1.      reaksi frustasi negative

 

dengan semakin pesatnya usaha pembangunan, modernisasi, urbanisasi dan industrialiasi yang berakibat semakin kompleksya masyarakat sekarang, semakin banyak pula anak remaja yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan sosial. Mereka lalu mengalami banyak kejutan, frustasi, konflik terbuka internal maupun eksternal, ketegangan batin maupun gangguan kejiwaan.apalagi ditambah oleh semakin banyaknya tuntutan sosial , sanksi-sanksi dan tekanan sosial/masyarakat yang mereka anggap melawan dorongan kebebasan mutlak dan ambisi mereka yang sedang menggebu-gebu.Kehidupan di kota yang serba individualistis, materialistis, dengan kontak-kontak soail yang sangat longgar juga kontak dengan orang tua atau saudara sendiri yang mengakibatkan banyak disintegrasi sosial ditengah masyarakat , jelas pula menyebabkan banyak terjadinnya disintegrasi pada pribadi anak remaja, karena mereka tidak mampu mencernakan segala perubahan-perubahan tersebut.

Pandangan psikoanalisa gangguan psikiatris, termasuk pula gangguan pada proses perkembangan anak remaja menuju pada kedewasaan sreta proses adaptasinya terhadap tuntutan lingkungan sekitar, ada pada individu itu sendiri, berupa:

1.      konflik batiniah

2.      pemasakan intrapsikis yang keliru terhadap segala pengalaman

3.      menggunakan relasi frustasi negative (mekanisme pelarian dan pembelaan diri yang salah)

beberapa reaksi frustasi negative yang bisa menyebabkan anak remaja salah-ulah adalah:

1.      agresi

2.      regresi

3.      fiksasi

4.      rasionalisasi

5.      pembenaran diri

6.      proyeksi

7.      teknik anggur masam

8.      teknik jeruk manis

9.      identifikasi

10.  narsisme

11.  autisme

 

2.      gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak-anak remaja

 

adanya kedua gangguan diatas merupakan hal yang sangat mengganggu daya adaptasi dan perkembangan pribadi anak yang sehat. Gangguan pengamatan dan tanggapan itu antara lain berupa:

§  ilusi

§  halusinasi, dan

§  gambaran semu

 

3.      gangguan berpikir dan intelegensi pada diri remaja

berfikir mutlak perlu bagi kemampuan orientasi yang sehat dan adaptasi wajar terhadap tuntutan lingkungan. Berfikir juga penting bagi upaya memecahkan kesulitan dan permasalahan hidup sehari-hari. Jika remaja tidak mampu mengoreksi pikiran-pikirannya yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada , maka pikirannya terganggu. Ia kemudian dihinggapi bayangan semu yang palsu. Lalu pola reaktifnya juga menjadi menyimpang dan tidak normal lagi. Intelegensi atau kecerdasan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan secara tepat-cermat-efisien alat-alat Bantu berfikir guna memecahkan masalah dan adaptasi diri terhadap tuntutan-tuntutan baru. Maka intelegensi bisa diartikan pula sebagai potensi mawas situasi dengan cepat dan cermat.

4.      gangguan perasaan/emosional pada anak-anak remaja

perasaan memberikan nilai pada kehidupan , dan menentukan sekali besar-kecilnya kebahagiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan , keinginan dan kebutuhan manusia.

Gangguan-gangguan fungsi perasaan ini antara lain berupa:

a.       inkontinensi emosional

b.      labilitas emosional

c.       ketidakpekaan dan ketumpulan perasaan

d.      ketakutan dan kecemasan

e.       perasaan rendah diri

 

B.     Faktor eksternal

 

Factor eksternal yang menyebabkan kenakalan remaja adalah sebagai berikut:

1.      faktor keluarga

keluarga adalah lembaga pertama dan utama dalam melaksanakan proses sosialisasi dan siviliasi pribadi anak. Baik buruknya struktur keluarga memberikan dampak baik atau buruknya terhadap perkembangan jasmani anak, sperti:

a.       rumah tangga berantakan

b.      perlindungan lebih dari orang tua

c.       penolakan orang tua

d.      pengaruh buruk dari orang tua

2.      lingkungan sekolah yang tidak mendukung

 

kondisi buruk ini antara lain berupa bangunan sekolah yang tidak memenuhi persyaratan, tanpa halaman bermain yang cukup luas, tanpa halaman olahraga, minimnya fasilitas ruang belajar, jumlah murid dalam satu kelas yang terlalu banyak dan padat (50-60 orang), ventilasi dan sanitasi yang buruk, dan sebagainya. Semua keadaan tersebut tidak menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar di sekolahnya. Kebanyakan sekolah hingga saat ini masih banyak berfungsi sebagai “sekolah dengar” daripada memberikan kesempatan luas untuk membangun aktivitas, kreativitas dan inventivitas anak. Dengan demikian sekolah tidak merangsang kegairahan belajar anak. Kurikulum yang berubah-ubah tidak menentu, sangat membingungkan para pengajar dan murid sendiri, serta jelas mengganggu proses belajar anak.

3.      faKtor milieu

 

milieu atau lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh orang dewasa serta anak-anak muda criminal dan anti sosial yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesen yag masih labil jiwanya. Dengan begitu anak remaja mudah terjangkit oleh pola criminal, a-susila, dan anti sosial.

 

Bab 16

Penutup

 

Dengan mata terbuka kita bisa melihat gejala kenakalan remaja dan perkelahian antar kelompok serta antar sekolah di kota-kota besar, dapat kita mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1.      kenakalan remaja dan perkelahian missal itu merupakan refleksi dari perbuatan orang dewasa di segala sector kehidupan.

2.      merupakan proses peniruan atau identifikasi anak remaja terhadap segala gerak-gerik dan tingkah laku orang dewasa “modern dan berbudaya” sekarang ini.

 

Oleh karena itu jika ingin menyembuhkan gejala patologis yang disebut sebagai juvenile delinkuensi itu, seyogyanya kita melakukan perbuatan sebagai beikut:

a.       banyak mawas diri

b.      memberi kesempatan pada anak muda untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat

c.       memberikan bentuk kegiatan dan bentuk pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan anak muda zaman sekarang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 1, 2010 in Ilmu Sosial, Sosiologi, Tahukah Anda?

 

Tag: , , , ,

Komentar ditutup.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: